Home > Opini Bangsa > Mujizat-Mu masih terjadi Tuhan

Mujizat-Mu masih terjadi Tuhan

Tulisan dibawah ini merupakan kisah tentang cinta, kasih Yesus terhadap keluargaku saat istriku menjalani proses melahirkan sampai pada keluarnya anakku dari Rumah Sakit.

Rabu, 26 Agustus 2009 adalah hari untuk memulai pengalaman baruku dan menaikkan levelku ke tingkat lebih tinggi lagi. Pagi itu, setelah bangun tidur lalu bergegas untuk mandi. Setelah mandi, kusiapkan barang-barang yang akan aku bawa ke rumah sakit. Bersama mantan pacarku tercinta (sekarang udah jadi istri🙂 ) aku bersama keluargaku yg lain meluncur menuju rumah sakit karena hari itu adalah hari kelahiran dari buah cinta kami. Setelah menunggu lebih dari 9 bulan 10 hari lewat 12 hari, akhirnya hari penantian itu tiba. Setiba di Rumah Sakit kira-kira jam 12 siang WIB, istriku langsung mendapatkan penanganan dari suster-suster yang sedang bertugas saat itu. Tak selang berapa lama, aku pun ketemu dengan dokter yang selama ini merawat istriku sewaktu masa kehamilannya.

“Gimana dok kondisi istri saya, apakah perlu dipacu (mengingat dokter pernah berkata untuk dilakukan proses pacu saat pemeriksaan terakhir)?” tanyaku pada sang dokter.

Dokter pun menjawab, “Baik semua, sudah bukaan 2 cm gak perlu dipacu, kita lihat lagi nanti”.

Sudah plong hati ini mendengar jawaban dari sang dokter kandungan tersebut.

Dengan rasa harap-harap cemas menunggu kelahiran anakku tercinta, aku berusaha untuk menghibur istriku yang sudah masuk di ruang bersalin. Istriku pun sempat jalan-jalan untuk mempercepat bukaan rahimnya. Sampai sekitar  jam 12 siang, istriku sudah mengeluarkan darah. Hatiku semakin plong, karena aku pikir bukaannya sudah bertambah (mengingat selama kehamilan istriku tidak mengalami pendarahan apa pun meski pun waktu perkiraan kelahiran sudah lewat 12 hari). Lalu istriku pun kembali masuk ke ruang bersalin untuk mengganti bajunya dengan kain jarik. Di dalam ruang bersalin, istriku kembali dicek oleh suster yang bertugas. Suster tersebut mengecek tensi darah istriku.

“15 12” kata sang suster.

Seperti tersambar petir mendengar tensi istriku yang langsung naik drastis.

Lalu suster pun bertanya kepada istriku,

“Apa ibu merasa pusing??”,

“Nggak sus” jawab istriku.

Suster pun tak percaya dengan apa yang telah dia ukur, maka dilakukan pengukuran ulang. Hasilnya tetap sama 15 11. Lalu suster pun mengganti alatnya. Hasilnya juga tetap sama 15 11. Mulailah aku merasa down.

Kutanyakan efek dari tensi tersebut.

“Klo kondisi tetap seperti ini, maka akan berbahaya terhadap sang ibu, ibu bisa mengalami stroke, gagal lahir sewaktu proses melahirkan nantinya” jawab sang suster

Wah tambah stres aku mendengar jawaban dari sang suster.

Akhirnya kuputuskan untuk menjemput ibu mertuaku dan kakakkulah yang aku maintain tolong buat jemput ibu mertuaku. Dengan pemikiran dan harapan, klo istriku ditemani oleh ibunya, kondisi mentalnya akan lebih tenang dan tensinya pun ikut turun. Akhirnya ibu mertuaku tiba juga di Rumah Sakit, lalu kuceritakan kondisi istriku dan ibu mertuaku pun langsung menengok anaknya di dalam ruang bersalin dan melakukan penghiburan. Dengan kondisi sudah mulai down secara mental, aku pun mondar-mandir keluar masuk ruang bersalin.

“Suster, kapan istri saya dicek lagi bukaannya?” tanyaku ke suster yang sedang jaga.

“Nanti pak sekitar jam 6 sore” sahut sang suster.

Akhirnya suster pun mengambil keputusan untuk merawat istriku secara intensif. Lupa aku nama perawatannya. Yang masih aku ingat adalah istriku dipasangi alat monitoring untuk tensi dan detak jantung untuk ibu dan anaknya. Selama masa penantian untuk menuju ke jam 6 sore, aku pun sering keluar masuk ruang bersalin hanya untuk mengecek apakah ada perubahan pada istriku. Kulihat angka 140 pada monitoring tensi dan (angkanya lupa) pada monitoring detak jantung sang bayi. Detak bayi tersebut kadang hilang sendiri tapi hanya sebentar lalu timbul rasa penasaran dengan kondisi tersebut.

“Klo detak sang bayi hilang-hilang gini gimana sus efeknya dan normalnya apa begini” tanyaku pada suster karena rasa penasaranku.

“Gak papa pak, mungkin alatnya ini yang kurang pas, karena alatnya ini memang sangat sensitive” jawab suster tersebut.

Oklah pikirku, karena memang aku tidak tahu menahu tentang alat-alat medis. Akhirnya aku pun percaya aja sama apa yang dijelaskan oleh suster tadi. Aktifitas keluar masuk ruang bersalin pun terus berjalan sambil menanti jam 6 sore. Melihat monitoring tensi dan detak jantung anakku pun tetap berjalan. Tanpa ada perubahan berarti dari tensi istriku, cuma dikisaran 140 – 150 terus. Kok gak turun – turun yang pikirku. Kuhibur istriku supaya kondisi mentalnya lebih tenang dan dengan harapan tensinya pun ikut turun. Selama masa penantian pun aku terus berharap supaya pas jam 6 sore nanti aku mendapatkan kabar yang menggembirakan. Bukaan istriku akan cepat.

Akhirnya, jam 6 sore telah tiba. Rasa penasaran yang aku pendam kurang-lebih 5 jam yang lalu akhirnya keluar dari mulutku.

“Gimana sus, sudah ada perkembangan?” tanyaku dengan rasa cemas dan harapan.

“Sudah bukaan 3 pak, nanti kita tunggu lagi jam 9 malam untuk tahu perkembangan selanjutnya” jawab suster memenuhi rasa penasaran, cemas dan harapanku.

Sedikit rasa kecewa pun meliputi hatiku.

“Wah baru bukaan tiga, masih ada 7 bukaan lagi” pikirku.

Ibu mertuaku pun ikut menghibur aku dengan perkataan – perkataan yang menimbulkan harapan baru. Detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam pun aku lewati bersama keluarga yang saat itu menunggu istriku di Rumah Sakit. Dengan perasaan penasaran, cemas dkknya, aku pun menunggu datangnya jam 9 malam.

Jam 9 malam pun mulai menyambut. Sekali lagi, rasa penasaranku harus aku tuntaskan.

“Gimana sus, ada perkembangan tidak istri saya?” tanyaku kembali kepada suster.

“Masih bukaan tiga pak, dan ini sudah saya telponkan ke dokternya dan kata dokternya harus dipacu tapi nunggu dokter jaganya dulu untuk konfirmasinya” jawab susternya.

“Kondisi ibunya juga harus bagus pak, tensinya harus dibawah 150” lanjut susternya memberikan keterangan kepadaku.

Semakin down aja mentalku ini.

“Tapi gak masalah lah klo masih bisa melahirkan secara normal” pikirku.

Semakin cemas hatiku menunggu dokter jaganya datang. Dengan perasaan tak karuan, aku mondar – mandir keluar masuk ruang bersalin bergantian dengan ibu mertuaku. Pada kunjungan terakhirnya ibu mertuaku, beliau menyuruh aku untuk masuk ke dalam sambil menunggu dokter jaganya. Aku sengaja agak mengulur waktu biar istriku dapat istirahat dengan tenang supaya tensinya pun ikut turun. Akhirnya kuputuskan sekitar jam 10 malam, aku masuk ke ruang bersalin dan yang pertama kulihat adalah tensi dari istriku.

“Puji Tuhan, tensimu dah 134 mi” kataku ke istriku.

“Wah brarti siap buat di pacu” pikirku dalam hati.

Tapi tak selang berapa lama, kudengarkan suara detak jantung dari anakku mulai melemah dan melemah dan akhirnya hilang. Dan disaat yang bersamaan istriku mengalami kontraksi hebat. Dengan bergegas kutemui suster.

“Sus, detak jantung bayinya kok semakin lemah ya” tanyaku ke suster.

Suster pun bergegas beranjak dari tempat duduknya dan melihat kondisi istriku.

“Miring ke kiri bu….” perintah suster kepada istriku.

“Klo kondisinya seperti ini terus, lahirannya gak bisa lewat jalan bawah” kata suster menyambung perintah sebelumnya.

“Bisa dikatakan kondisi tidak bagus klo kejadian ini terulang berapa kali sus” tanyaku pada suster.

“Klo sudah sampai 2 kali, dokter pasti menganjurkan untuk operasi” jawab suster terhadap pertanyaanku tadi.

Aku pun berdoa dan berharap supaya detaknya kembali lagi dan terus normal sampai proses pacu kehamilan nanti. Akhirnya, detak jantung anakku kembali lagi sekitar 140-an. Jumlah detak ini kata susternya adalah detak jantung normal dari bayi. Aku pun sedikit merasa plong hati ini. Suster pun belum beranjak dari samping istriku. Tanpa diduga dan tanpa disangka kejadian serupa pun terulang kembali. Semakin down mentalku. Karena melihat kejadian tersebut, suster pun bergegas menelepon dokter kandungan istriku. Tak selang berapa lama, detak jantung anakku pun mulai hilang lagi dan kejadian ini terulang sebanyak 2-3 kali setelah 2 kejadian sebelumnya. Jadi total bayiku hilang detak jantungnya dari monitoring sekitar 4-5 kali. Karena kejadian tersebut terus berulang, aku mulai panik dan memanggil kembali suster tadi yang menangani.

“Sus, hilang lagi nih” kataku dengan agak panik.

Suster pun bergegas menghampiri istriku. Suster pun melakukan tindakan medis yang diperlukan dan tak berselang lama, aku pun dipanggil oleh suster tersebut.

“Pak ini sudah tidak bisa lewat jalan bawah dan harus di cesar” kata suster.

“Karena kejadian ini sudah lebih dari 2 kali dan dokter pun meminta untuk segera di operasi malam ini juga. Hal ini terjadi kemungkinan karena kalung usus atau tali pusatnya membuat simpul” lanjut sang suster.

“Bapak dimohon untuk mengisi form – form persetujuan berikut ini” lanjut sang suster lagi.

“Sus, apa gak bisa USG penyebabnya dimana?” tanyaku dengan harapan ada cara yang lain selain cesar.

“Bisa pak, tapi harus pakai USG 4 Dimensi” jawab susternya.

Dan entah kenapa, biasanya aku yang penuh dengan rasa penasaran, rasa selidik, tiba – tiba otakku berhenti untuk berfikir dan tidak terlalu merespon jawaban terakhir dari suster tadi.

“Seandainya sus, ntar istriku kondisinya kembali normal, apa bisa operasi ini dibatalkan??” tanyaku ke suster. Pertanyaan ini aku ajukan dengan harapan Tuhan Yesus akan melakukan mujizatnya yaitu melepaskan kalung usus dari leher anakku dan anakku pun bisa lahir normal.

“Sampai kapan pak mau nunggunya???” jawab suster dengan pertanyaan.

“Silahkan bapak konsultasi dulu dengan keluarga” sambung sang suster

Lalu aku pun keluar dari ruang bersalin dan menelpon orang tuaku. Suara diseberang pun mengatakan untuk secepatnya aja di operasi dan orang tuaku setuju.

“Uang darimana nih untuk nutup biayanya” pikirku.

Lalu kutemui ibu mertuaku dan aku katakan kondisinya bahwa harus di operasi. Ibu mertuaku pun cuma pasrah aja.

Sekali lagi otakku pun tidak bisa berfikir. Saat inilah aku memulai peperangan rohani. Di satu sisi ada yang mengatakan

“Klo kamu mengijinkan istrimu operasi brarti kamu gak percaya ama Yesus klo Dia bisa buat mujizat”.

Di sisi lainnya aku teringat akan kisah dari temanku dan perkataan dari temanku bahwa apa yang dia inginkan itu bukan kehendak Yesus tapi kehendak pribadinya sendiri karena temanku merasa mampu.

Disisi lain, aku diingatkan aku harus cerdik dan tulus seperti merpati. Semakin ruwet nih otak.

Aku dihadapkan pada 2 pilihan yaitu “Bayar mahal dengan pulang membawa anak atau bayar mahal tapi pulang bawa peti mati dan bendera merah”. Pilihan yang menurutku sama – sama beratnya. Harus bayar mahal untuk operasi cesar.

“Ah ya udah klo memang sama – sama bayar mahal, tapi aku pengen pulang bawa anakku ke rumah” kataku dalam hati.

Akhirnya kuputuskan untuk operasi dan aku pun menulis formulir persetujuan untuk dilakukan proses operasi. Setelah selesai menulis formulir persetujuan, aku pun menemani istriku yang masih terbaring di ruang bersalin. Disaat yang bersamaan, para suster mempersiapkan istriku untuk operasi. Aku pun melihat ke arah monitoring detak jantung anakku. Kulihat semuanya kembali normal. Aku mulai ngotot ke suster

“Sus, ini dah normal. Klo ditunggu lagi gimana?” kataku ke suster. Perkataan ini aku lontarkan dengan harapan sekali lagi, Yesus akan membuat suatu mujizat.

“Khan sekarang pakai oksigen pak dan mau nunggu sampai kapan lagi?” jawab suster.

Aku pun gak bisa berbicara dan otakku pun kembali lagi gak bisa digunakan untuk berfikir.

“Lah tadi juga pakai oksigen sus, tapi kondisinya sekarang khan udah beda” kataku ke suster sedikit ngotot mempertahankan keinginanku untuk bisa lahir normal (karena biayanya murah).

“Trus mau nunggu sampai kapan lagi pak. Kita gak bisa nunggu lagi” jawab suster dengan perkataan yang sama.

Akhirnya aku pun lemas dan mulai pasrah dengan keadaan yang aku hadapi saat itu. Dengan berat hati, kulepas istriku menuju ruang operasi.

Antara jam 10 – 10.30 malam istriku masuk ke ruang operasi Diluar ruang bersalin sudah menunggu kedua orang tuaku, ibu mertuaku serta saudaraku yang lain. Tak selang berapa lama, ayah mertuaku pun datang. Sekitar jam 11 malam, pendetaku datang ke Rumah Sakit dan dengan beda waktu yang sebentar, dokter jaga yang akan memberikan penjelasan dan konfirmasi tentang proses pacu istriku pun datang ke ruang bersalin. Kami pun berdoa bersama di depan ruang operasi.

Jam menunjukkan pukul 11.08 WIB malam. Terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang operasi. Aku pun masih menunggu dengan harap cemas, karena saat itu ada ibu lain yang melakukan proses operasi juga. Masih dalam penantian, akhirnya susternya keluar memanggil.

“Suaminya Ny. Kristiani Wahyuningsih, bayinya udah lahir pak” kata suster dari balik pintu.

Aku pun bergegas masuk ke dalam ruang operasi.

“Laki apa perempuan sus??” tanyaku ke suster.

“Laki-laki pak, selamat ya pak” jawab suster sembari memberikan selamat.

Lalu kulihat anakku sudah di dalam boks perawatan bayi, aku pun mulai memegang anakku dari luar boks. Kulihat sangat putih sekali. Disaat bersaaman ada suatu suara dalam hatiku, ntah itu suara Yesus atau suara hatiku atau apalah yang mengatakan

“Inilah mujizat yang ingin Aku buat untuk kamu”

“Wah anakku putih nih, brarti ikut ibunya” pikirku saat itu. Soalnya aku sendiri kulitnya sawo matang cenderung busuk.😀. Aku pun langsung dipanggil oleh dokter anaknya yang sebelumnya telah aku tunjuk untuk mendampingi dokter kandungan dalam proses operasi tadi.

“Tadi anaknya ngalung usus, tali pusatnya dah gak berfungsi dan air ketubannya sudah hijau keruh pekat pak” terang dokter anak tersebut kepadaku tentang kondisi anakku.

“Bayinya harus segera dirawat di patologi pak dan harus diberikan obat – obatan ini. Karena harganya diatas 100 ribu, maka perlu konfirmasi dari pihak keluarga” kata dokter memberikan keterangan lanjutan.

Aku pun menandatangani tanda setuju dengan apa yang diajukan oleh dokter anak tersebut.

“Dok, boleh gak anaknya aku ambil gambarnya??” tanyaku ke dokter tersebut.

“Wah gak bisa pak, soalnya anak ini kondisinya kritis” sahut susternya.

“Bentar ajalah….” rayuku ke suster dan dokternya.

“Bentar ya pak, janji bentar ya….” kata susternya seakan menegaskan akan janjiku.

“Iya sus, sebentar aja” sahutku kembali.

“Baik pak, asal sebentar aja soalnya anak ini harus segera dirawat secepatnya” tegas dari susternya kembali.

“Ok, bentar aja ya pak” jawab dokternya mengijinkan.

Aku pun keluar dari ruang operasi untuk mengambil handycam yang telah aku siapkan. Rencananya handycam ini akan aku pakai untuk mengambil gambar saat istriku melahirkan secara normal. Aku pun kembali masuk ke dalam ruang operasi dan mulai mengambil gambar anakku. Sesuai dengan janjiku untuk sebentar saja mengambil gambarnya, maka aku pun hanya mengambil gambar cuma beberapa detik saja.

“Silahkan bapak tunggu di depan ruang radiologi, nanti istrinya keluar dari situ.

Menunggu agak lama sedikit, akhirnya istriku pun telah keluar dari ruang operasi dengan selamat.

Terima kasih Bapa di Surga, Tuhan Yesus Kristus, Roh Kudus sudah menyelamatkan anak yang Kau percayakan buat kami berdua dan juga sudah menyelamatkan istriku dari operasi cesar.

Bersambung…….

Masih ada mujizat Tuhan Yesus yang lainnya setelah proses operasi tersebut dan selama masa perawatan istriku dan anakku.

Once again, thank’s to Lord Jesus……

You’r very special for our family…….

  1. September 15, 2009 at 10:36 am

    nice share boz…..
    keren…

    di tunggu lanjutannya😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: