Home > Opini Bangsa > My First Online Experience

My First Online Experience

Judul ini akan mengembalikan saya ke tahun 1999 akhir – 2000 awal, untuk tanggal dan bulannya saya sudah lupa. Tapi yang tidak saya lupakan adalah pengalaman pertama yang selanjutnya mengubah jalan hidup saya sampai sekarang.

Perkenalan saya dengan yang namanya internet bermula saat saya kuliah di Jakarta. Pada saat itu saya mengambil kuliah D3 jurusan Teknik Mesin Industri. Saat pertama saya kuliah, saya belum tahu apa itu internet, chatting, browsing, email dkk-nya. Bener-bener gapteklah saat itu. Lalu saya berkenalan dengan adik dari seorang penjual warteg (warung tegal) di depan kos saya. Perkenalan saya ini di semester 4. Pada suatu hari dia telpon ke kos saya, setelah ngobrol ngalor-ngidul akhirnya sampai pada 1 pertanyaan yang sampai sekarang pun saya belum lupa pertanyaannya (karena pertanyaan inilah hidup saya berubah).

Pertanyaan teman saya, “Danu, kamu bisa chatting gak???”.

Lalu saya jawab, “Chatting apaan tuh, klo ceting (tempat nasi – dalam bahasa Jawa) aku tau”.

Lalu dia pun sedikit mengejek saya, “Gimana sih kamu, udah kuliah, di Jakarta lagi masa chatting aja gak tau. Dah sana pergi ke warnet buat cari tau apa itu chatting”.

Karena rasa penasaran dan merasa agak sedikit marah gara-gara di ejek gitu, akhirnya saya berprinsip bagaimana pun caranya saya harus bisa chatting dan kenal yang namanya internet. Untuk datang pertama kali ke warnet pun saya agak takut, bingung dll campur aduk deh jadi satu. Saya pun akhirnya mengajak teman kos untuk mengajari saya tentang internet, chatting dkk-nya. Tapi karena kesibukan teman saya, akhirnya batal deh untuk ngajari. Teman saya pun menyuruh saya untuk datang sendiri ke warnet.

Karena rasa penasaran dan rasa ingin tau yang sudah tidak bisa dibendung lagi, dan dengan mengumpulkan sejumlah keberanian akhirnya ku datangi juga warnet. Waktu pertama datang ke warnet itu, aku juga bingung mau ngapain. Dengan rai gedhek (dalam bahasa Jawa yang artinya tanpa rasa malu) saya pun bilang, “Saya belum pernah maen internet, pengen belajar”. Di warnet itu pun masih ada sisa 1 komputer yang kosong. Akhirnya saya duduk di tempat itu. Disebelah kanan dan kiriku sudah ada orang yang pakai. Alhasil, saya duduk ditengah. Saya pun diajari oleh orang yang duduk disebelah kiriku (maaf bang, namanya saya agak lupa). Pertama kali yang dia ajarkan adalah chatting di MIRC. Untuk pertama kali chatting pun masih deg-degan (karena pada dasarnya saya agak sulit untuk memulai percakapan dengan orang lain). Waktu pertama memulai chatting, saya pun ditanya oleh lawan bicaraku “aslpls”. Lah tambah bingung saya, apa ini “aslpls”. Alhasil saya tanya lagi sama orang yang ngajari saya tadi. Dan orang yang ngajari saya cuma bilang “Jawab aja Umur kamu berapa, M, jkt”. Akhirnya aku nurutin aja tanpa tau arti dari “aslpls” itu sendiri. Tanpa terasa malam semakin larut dan saya banyak mengganggu orang yang ngajari saya tadi.  Pada hari pertama kenal internet, hati saya senangnya minta ampun.

Karena saya tidak puas hanya bisa chatting, akhirnya hari-hari selanjutnya saya sering ke warnet untuk belajar hal lain disamping ber-chatting ria. Tanpa disadari, uang kiriman dari orang tua yang sedikit mepet untuk hidup di Jakarta habis untuk berinternet, saya pun akhirnya memutar otak bagaimana caranya biar saya tetap bisa ber-internet ria. Mungkin karena keseringan saya untuk datang ke warnet itu, sang pemilik pun menawari saya untuk kerja di warnetnya dia. Hari demi hari, saya habiskan di warnet itu sampai saya lupa tugas utama saya yaitu kuliah. Kuliah yang super disiplin aturannya pun saya terbas. Di warnet itu pun saya mendapatkan ilmu baru yaitu tentang komputer. Bagaimana merawat komputer, apa aja isi dari komputer, apa itu OS, bisa apa aja dengan komputer dll. WOW ternyata banyak juga yang bisa dikerjain dengan komputer. Karena jiwa saya yang ingin menjadi seorang pencipta, akhirnya saya temukan jiwa saya di komputer.

Pada suatu hari, saya mendapatkan uang dari kampus sebesar Rp. 360.ooo yang katanya uang beasiswa selama 1 tahun. Tapi apa pun alasannya buat saya gak berpengaruh. Uang tersebut merupakan berkah buat saya, akhirnya saya pun bisa ber-internet ria dengan sedikit longgar. Uang tersebut habis hanya untuk mencari ilmu tentang internet. Aku pun mencari-cari informasi lewat internet, apa itu “aslpls”, apa itu hacking, apa itu software ini itu dkknya. Akhirnya aku temukan arti “aslpls”. Karena semakin keranjingannya saya dengan internet, tidur pun mulai tak teratur, sering keluar dan gak pulang ke kos dan kalau pulang pun sering larut malam dan alhasil harus lompat pagar kos-kosan, sering bolos kuliah, makan tak teratur. Sampai-sampai badan saya kurus dan pemilik kos pun mengira saya pakai narkoba. Karena sudah semakin suka ama komputer, saya pun minta orang tua buat beliin komputer. Dari hari ke hari, semakin merengek untuk dibeliin komputer. Akhirnya papa saya pun datang ke Jakarta hanya untuk beliin komputer.

Karena sudah tidak terkontrol lagi kegiatanku dengan internet, akhirnya pada awal ajaran baru, waktu itu saya menginjak semester 5 awal dan tinggal 1 semester (sekitar 8-10 bulan) lagi saya lulus. Baru masuk sekitar 2 bulan, tapi saya sudah bolos 1,5 bulan, akhirnya saya mengeluarkan diri dari kuliah dengan alasan yang mungkin tidak masuk akal, “Ini bukan jiwa saya, jiwa saya dikomputer”. Orang tua pun langsung marah, nangis, sakit hati, harapannya hancur (mohon maaf papa, mama).

Setelah keluar, saya pun harus kembali ke Solo. Di Solo pun saya tidak langsung menghentikan kegiatan be-rinternet. Saya pun semakin mengenal dunia maya dan komputer semakin dalam lagi. Saya lebih mengenal apa itu bahasa pemrograman, apa itu web developer. Puji Tuhan, orang tua masih memberikan kesempatan untuk saya kuliah lagi. Tahun 2001, akhirnya saya memutuskan untuk kuliah lagi dan kuliah di Yogyakarta di salah satu universitas swasta. Di Yogya, saya semakin keranjingan saja dengan yang namanya komputer. Gimana gak, banyak persewaan CD Software murah dan syarat yang mudah (modal KTM dan uang Rp. 2500 udah dapat 1  CD Software dengan isi software apa aja). Warnet super murah, hanya modal Rp. 3000 untuk satu jam di jam biasa dan Rp. 1500 untuk happy hour (jam 12 malam – 6 pagi). Cocok sekali nih untuk kantong seorang mahasiswa. Selain itu banyak temen yang mendukung. Di Yogya inilah saya menambah ilmu saya didunia internet. Baik dari hacking, carding, setting internet, bikin web, bikin aplikasi client server, cara setup komputer yang bagus dll.

Ini sedikit pengalaman pertama saya mengenal internet dan komputer.

Terima kasih ke :

Mbak Muti (penjual warteg) dan adiknya (yang ngejek saya dan mengubah jalan hidup saya).

Bang Ucok (Sebastian) : pemilik warnet yang ngajari saya tentang komputer dan ngajak saya kerja diwarnetnya)

Kakaknya bang Ucok : yang ngajari saya pertama kali gimana chatting di MIRC.

Bang Alex : yang tidak boleh pinjem bukunya yang membuat saya semakin penasaran dan belajar lebih keras.

Temen-temen di warnet dulu tempat saya kerja.

Client-client saya yang mempercayakan softwarenya untuk dibuat oleh saya.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: