Home > Opini Bangsa > Tak Ada Elpiji, Minyak Tanah Pun Hilang

Tak Ada Elpiji, Minyak Tanah Pun Hilang

Beberapa waktu yang lalu, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan konversi minyak tanah ke elpiji. Banyak pro dan kontra yang mengiringi penetasan kebijakan tersebut. Kebijakan tersebut mulai merangkak pasti seolah tidak ada yang salah dengan kebijakan tersebut. Pihak yang kontra pun sedikit demi sedikit mulai sunyi senyap tak bersuara. Pendistribusian elpiji 3kg pun seolah-olah lancar-lancar saja tanpa ada halangan. Meskipun ada sedikit kerikil-kerikil di tengah jalan, namun pemerintah meyakinkan bahwa tidak akan ada kelangkaan elpiji.
Seiring dengan berjalannya waktu, saat ini elpiji mulai jarang ditemui di pasaran. Banyak alasan berkembang di masyarakat bahwa pendistribusian yang terlambat lah, alat-alat pengisian ada yang rusak sehingga pengisian tabung tidak maksimal lah dan masih banyak lagi alasan-alasan yang lain. Apakah benar begitu adanya alasan-alasan tersebut???
Mari kita lihat sejenak kondisi saat ini. Di Amerika, negara adi kuasa ini mengalami krisis ekonomi yang luar biasa dan dampaknya sampai kemana-mana. Banyak perusahaan yang harus gulung tikar karena pengumuman pailit dari Lehman Brothers. Imbas tersebut sampai ke Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika melesat tinggi. Kepanikan pasar meningkat. Kepercayaan publik hilang. Menambah nilai tukar rupiah semakin tak terkendali. Perusahaan banyak yang gulung tikar, PHK dimana-mana. Keadaan ekonomi Indonesia semakin carut-marut gak karuan.
Melihat nilai tukar rupiah yang semakin melambung tinggi, keadaan ini banyak dimanfaatkan oleh para pengusaha untuk mengeruk untung setinggi-tingginya. Banyak para pengusaha “nakal” yang dengan sengaja menimbun stok barang mereka. Hal ini mengakibatkan stok di pasaran menipis sedangkan permintaan terus berlanjut. Akibatnya harga dapat dipermainkan oleh pemegang pasar. Wow bisnis yang luar biasa apabila kita memegang pasar suatu produk. Akhirnya alasan-alasan tersebut diatas dikeluarkan oleh para pemegang pasar. Dengan menunggu nilai tukar rupiah mencapai titik klimaksnya, maka stok-stok tersebut akan tetap aman di gudangnya masing-masing. Akhirnya untuk produk elpiji, produk tersebut langka di pasaran. Masyarakat akan beralih ke minyak tanah juga sudah susah mendapatkannya karena kebijakan pemerintah tentang pengkonversian minyak tanah tersebut.
Maka kelangkaan elpiji akhir-akhir ini apakah benar-benar karena distribusi yang terlambat yang dikarenakan adanya alat-alat pengisian tabung gas yang rusak??? Atau adakah permainan para pemegang pasar elpiji untuk mengeruk untung yang setinggi-tingginya???
Hanya Andalah para pembaca blog ini yang dapat menilainya.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: