Home > Opini Bangsa > Refleksi Tahun Baru (Disana Gembira, Disini Merana)

Refleksi Tahun Baru (Disana Gembira, Disini Merana)

Tahun baru telah kita lalui bersama, kemeriahan tahun baru pun telah sirna seiring dengan hembusan angin dan guyuran hujan yang mengiringi perhelatan akbar masyarakat dunia. Gelegar kembang api bernilai ratusan juta hilang begitu saja. Penghasilan akhir tahun para diva Indonesia yang mencapai 1,5M untuk setiap divanya pun telah masuk ke rekening masing-masing diva. Wow….. pendapatan yang sungguh fantastis untuk show 1 malam.

Di satu sisi, terdapat berkah untuk segelintir orang disana, namun di sisi yang lain terdapat suatu kesengsaraan untuk banyak orang disini. Kejadian 3 tahun silam terulang kembali, Indonesia menutup tahun dengan suatu bencana yang melanda Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bencana banjir yang dialami oleh masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur, tanah longsor yang dialami oleh masyarakat Karanganyar dan Wonogiri. Suatu penutupan tahun yang sungguh tragis. Alam kembali unjuk rasa karena keusilan dan kejahilan tangan-tangan manusia tak bertanggungjawab. Keserakahan yang untuk segelintir orang, amukan alam untuk banyak orang.

Sebuah pertanyaan dari segelintir orang yang masih tinggi tingkat kepekaan sosialnya, “Masih perlukah penyambutan tahun baru dengan suatu acara yang menghabiskan uang milyaran tersebut?”. Suatu perenungan dan refleksi diri untuk setiap manusia Indonesia. Salah satu SMS dari temenku yang masih tinggi tingkat kepekaan sosialnya “Pentingkah tahun baru di isi dengan hura-hura, gelegar kembang api, ramainya festival band dan riuhnya suara terompet, sedangkan disekitar kita ada teriakan minta tolong karena kebanjiran, jeritan kesedihan dan ratapan ditinggal mati orang terdekat karena tertimbun tanah longsor. PENTINGKAH!!!!!!”.

Banyak orang menghabiskan uang untuk menikmati acara tutup tahun, namun korban bencana menghabiskan sisa air mata untuk menutup akhir tahunnya. Kebutuhan mereka hanyalah 1/1jt dari kebutuhan untuk acara tutup tahun. Perhatianlah yang mereka butuhkan, dukungan morallah yang mereka butuhkan, secuil makananlah yang mereka butuhkan, sehelai bajulah yang mereka butuhkan, segayung air bersihlah yang mereka butuhkan, setablet obatlah yang mereka butuhkan, secangkir susu bayilah yang mereka butuhkan, selembar selimutlah yang mereka butuhkan. Semua kebutuhan tersebutlah yang mereka butuhkan untuk tetap bertahan hidup ditengah derita mereka dalam menghadapi bencana yang menimpa mereka. Apakah kebutuhan tersebut hanya tanggung jawab dari Basarnas atau segelintir orang yang masih tinggi tingkat kepekaan sosialnya? Ataukah masyarakat Indonesia telah memberlakukan slogan baru yaitu “Senangmu adalah senangku, susahmu adalah susahmu” ?. Masihkah tersisa secuil ruang hati kecil masyarakat Indonesia untuk berbagi kepada sesamanya di musim bencana ini? Atau tingkat keegoisan masyarakat Indonesia telah melampaui batas kewajaran? Tidak adakah kearifan dan kebijaksanaan dalam menghadapi acara tutup tahun?

Semoga semua pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadikan perenungan dan refleksi diri dari setiap individu yang tinggal di tanah air Indonesia. Satu bangsa,bangsa Indonesia. Satu tanah air, tanah air Indonesia. Semoga sumpah suci para pemuda Indonesia tahun 1928 ini tetap ada dihati setiap individu Indonesia……

GOD BLESS INDONESIA

  Independent Volunteer

Categories: Opini Bangsa
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: