Home > Opini Bangsa > Permainan Tradisional di Era Globalisasi

Permainan Tradisional di Era Globalisasi

Cublak cublak suweng, suwenge ting gelenter mambu ke tundung gude, pak empong lela lelo sopo guwu ndhelik ake. Sir.. sir pong del’e gosong sir… sir… pong del’e gosong“.

Kalimat diatas merupakan segelintir lagu yang mengiringi anak-anak melakukan permainan tradisional yang bernama “Cublak Cublak Suweng” dimana ada seorang anak dengan posisi telungkup dan anak-anak yang lain menengadahkan tangan mereka di punggung si anak yang telungkup tersebut sembari tangan yang lain memutarkan sesuatu ke setiap tangan yang menengadah tersebut. Setelah lagu tersebut selesai, maka anak yang telungkup tersebut kembali berdiri dan menebak siapa diantara anak-anak yang menengadahkan tangan tersebut yang memegang benda yang sebelumnya telah diputar.

Permainan tradisional tersebut merupakan satu contoh dari ribuan permainan tradisional yang ada di Indonesia. Namun permainan-permainan tradisional tersebut kini mulai terkikis keberadaannya sedikit demi sedikit khususnya di kota-kota besar dan mungkin untuk anak-anak sekarang ini banyak yang tidak mengenal permainan tradisional yang ada padahal permainan tersebut adalah warisan dari nenek moyang rakyat Indonesia. Semakin tidak populernya permainan tradisional tersebut dikarenakan telah banyak munculnya permainan-permainan yang lebih atraktif dan menyenangkan hati anak-anak sekarang ini dan kesemua permainan tersebut adalah murni produk dari luar Indonesia. Sebagai contoh dibanjirinya Indonesia dengan PlayStation (PS) yang merupakan produk dari Jepang dimana sekarang telah mencapai versi yang ketiga. Dengan banyaknya permainan elektronik maupun non elektronik yang menyenangkan dan menghibur yang ada dipasaran Indonesia, maka sedikit demi sedikit keberadaan dari permainan tradisional semakin tersisihkan.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa permainan-permainan yang sekarang membanjiri pasar Indonesia lebih menarik, atraktif, menghibur dibandingkan dengan permainan tradisional dan akan membuat banyak anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya bersama permainan-permainan tersebut. Disamping itu, banyak orang tua sekarang lebih senang membelikan permainan-permainan elektronik maupun non elektronik tersebut untuk anaknya daripada mengajarkan anak-anak mereka permainan-permainan tradisional yang dulu pernah dilakukan oleh para orang tua tersebut. Entah karena alasan tidak ada waktu untuk mengajari yang dikarenakan disibukan oleh pekerjaan atau karena menganggap permainan tersebut sudah ketinggalan jaman dan tidak perlu diajarkan kepada anak-anak mereka.

Ambisi Orang Tua atau Keinginan Anak

Ada iklan obat dari salah satu produsen obat dimana adegannya adalah sebagai berikut : ada seorang anak yang baru pulang dari kursus biola kemudian anak tersebut langsung belajar dan disaat belajar tersebut sang ibu mendekati si anak tersebut dan menanyakan apa yang sedang dikerjakan si anak. Si anak menjawab dengan nada lesu karena mengalami sakit panas. Saat pertama saya melihat iklan tersebut, hati saya mulai tergelitik dengan pertanyaan, kenapa produsen tersebut membuat iklan tersebut? Apakah hanya untuk promosi belaka atau ada pesan moral yang ingin disampaikan?

Kalau kita memperhatikan kebiasaan yang sekarang umum dilakukan oleh para orang tua terhadap anaknya adalah para orang tua menginginkan anaknya kursus ini dan itu, maka buat saya iklan tersebut merupakan pesan moral atau bahkan mungkin sindiran halus untuk para orang tua. Apakah kursus ini dan itu yang notabene menghabiskan waktu dan tenaga si anak merupakan pilihan dari anak tersebut atau merupakan ambisi dari para orang tua dalam pembentukan dan pengembangan diri anak-anak mereka. Apakah orang tua pernah berdemokrasi dengan si anak untuk menentukan mana yang disenangi oleh anak-anak mereka. Untuk sebagian anak mungkin senang dengan pilihan orang tua mereka namun sebagian yang lainnya mungkin tidak senang dengan pilihan orang tua mereka. Anak-anak juga mempunyai hak dalam menentukan apa yang ingin mereka lakukan. Dalam penentuan pilihan, anak-anak diajarkan untuk meng-“eksekusi” terhadap sejumlah pilihan yang dipaparkan dihadapan anak tersebut. Selain itu, anak-anak juga diajarkan untuk bertanggungjawab terhadap pilihan yang telah dipilihnya apabila pilihan tersebut ternyata salah.

Banyak pertimbangan dan ketakutan dalam hati para orang tua dan hal itu adalah wajar karena anak-anak merupakan buah kasih dan harta yang sangat berharga untuk mereka. Mungkin anaknya akan memilih ini dan itu dimana pilihan anak tersebut tidak sesuai dengan keinginan para orang tua sehingga para orang tua lebih memilih model “diktaktor dalam rumah tangga” daripada “demokrasi dalam rumah tangga“. Banyak orang tua sering menanyakan ke anaknya untuk kursus apa yang ingin dipelajari karena mereka beranggapan apabila anak mereka kursus ini atau kursus itu akan membuat anak mereka lebih pintar, lebih berbakat, lebih dan lebih lagi alasannya. Namun jarang sekali terdengar pertanyaan “Nak, kamu ingin permainan yang mana?” Pertanyaan tersebut akan terdengar apabila orang tua dan si anak berada di area permainan. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kursus ini dan kursus itu dapat membantu perkembangan si anak. Misalnya adalah sempoa. Kursus ini membantu anak untuk berhitung dengan super cepat.

Pengembangan Diri Anak Lewat Permainan Tradisional

Banyak orang tua menggangap bahwa kursus atau mempelajari sesuatu di kelas non formal lebih berguna daripada bermain. Padahal banyak hal yang dapat diambil manfaatnya dari permainan tradisional, salah satunya adalah alat-alat yang mudah didapatkan dan memungkinkan anak-anak untuk membuatnya. Selain itu mengajarkan anak-anak untuk melepaskan ide kreatifnya untuk membuat/mengkreasi permainan tradisional tersebut dengan bahan-bahan yang ada disekitarnya. Seperti biji congklak yang umumnya dari kerang dapat digantikan dengan biji-bijian; papan congklak tidak harus menggunakan papan kayu berlubang tetapi dapat digantikan dengan melubangi tanah sehingga menyerupai bentuk papan congklak. Atau untuk permainan dampu saat ini dapat dilakukan di rumah menggunakan kotak-kotak lantai yang ada atau kotak gabus debagai pengganti lapangan (http://www.sahabatnestle.co.id). Contoh ini merupakan salah satu bentuk kreatifitas dari si anak dalam merespon apa yang ada disekitar mereka.

Sisi positif yang dimiliki oleh permainan tradisional antara lain yaitu Pertama, permainan anak selalu melahirkan nuansa suka cita. Dalam permainan tersebut jiwa anak terlihat secara penuh. Suasana ceria, senang yang dibangun senantiasa melahirkan dan menghasilkan kebersamaan yang menyenangkan. Inilah benih masyarakat yang “guyup rukun” itu dimulai. Jarang sekali permainan yang berguna untuk dirinya sendiri. Kedua, keguyuban itu dibangun secara bersama-sama. Artinya, demi menjaga permainan dapat berlangsung secara wajar , mereka mengorganisir diri dengan membuat aturan main diantara anak-anak sendiri. Dalam konteks inilah anak-anak mulai belajar mematuhi aturan yang mereka buat sendiri dan disepakati bersama. Disatu sisi, anak belajar mematuhi aturan bermain secara fairplay, disisi lain, merekapun berlatih membuat aturan main itu sendiri. Sementara itu, apabila ada anak yang tidak mematuhi aturan main, dia akan mendapatkan sanksi sosial dari sesamanya. Dalam kerangka inilah, anak mulai belajar hidup bersama sesamanya atau hidup bersosial. Namun demikian dipihak lain, apabila dia mau mengakui kesalahannya, teman yang lain pun bersedia menerimanya kembali. Suatu bentuk proses belajar mengampuni dan menerima kembali dari mereka yang telah mengakui kesalahannya (rekonsiliasi). Ketiga, keterampilan anak senantiasa terasah, anak terkondisi membuat permainan dari berbagai bahan yang telah tersedia di sekitarnya. Dengan demikian, otot atau sensor–motoriknya akan semakin terasah pula. Dipihak yang lain, proses kreatifitasnya merupakan tahap awal untuk mengasah daya cipta dan imajinasi anak memperoleh ruang pertumbuhannya. Keempat, pemanfaatan bahan–bahan permainan, selalu tidak terlepas dari alam. Hal ini melahirkan interaksi antara anak dengan lingkungan sedemikian dekatnya. Kebersamaan dengan alam merupakan bagian terpenting dari proses pengenalan manusia muda terhadap lingkungan hidupnya. Kelima, hubungan yang sedemikian erat akan melahirkan penghayatan terhadap kenyataan hidup manusia. Alam menjadi sesuatu yang dihayati keberadaanya, tak terpisahkan dari kenyataan hidup manusia. Penghayatan inilah yang membentuk cara pandang serta penghayatan akan totalitas cara pendang mengenai hidup ini (kosmologi). Cara pandang inilah yang kemudian dikenal sebagai bagian dari sisi kerohanian manusia tradisional. Keenam, melalui permainan masyarakat mulai mengenal model pendidikan partisipatoris. Artinya, anak memperoleh kesempatan berkembang sesuai dengan tahap-tahap pertumbuhan jiwanya. Dalam pengertian inilah, anak dengan orang tua atau guru memiliki kedudukan yang egaliter, sama-sama berposisi sebagai pemilik pengalaman, sekaligus merumuskan secara bersama-sama pula diantara mereka. (http://www.simpuldemokrasi.com, Talkshow RRI X “Menggali Permainan Anak Tradisional Dalam Pembentukan Karakter Anak”).

Beberapa contoh permainan tradisional di Indonesia dan manfat yang dapat diambil adalah sebagai berikut : DAMPU, permainan ini umumnya dimainkan oleh anak-anak usia sekolah baik laki-laki maupun perempuan. Main dampu tidak membutuhkan peralatan yang harus dibeli, cukup dimainkan di tanah lapang dengan membuat petak-petak di permukaan tanah sesuai dengan bentuk yang disepakati baik menggunakan kapur atau pecahan genting atau apapun. Alat lain yang digunakan adalah benda pipih seperti batu, pecahan genting, tutup botol yang digepengkan dan lain-lain sebagai biji. Inti permainannya adalah melempar batu pipih ke dalam kotak dengan tidak boleh keluar atau mengenai garis batas kotak, lalu melompat-lompat dengan satu kaki dalam kotak yang tidak berbatu tanpa boleh menginjak garis dan batu peserta lain. Setelah berputar anak harus mengambil batu dengan tetap bertumpu pada satu kaki lalu melompat kembali sampai ke garis awal. Manfaat : melatih keseimbangan tubuh, melatih kemampuan reka visual, meningkatkan kemampuan motor planning (perencanaan gerak), meningkatkan kemampuan diferensiasi tekstur berdasarkan indera perabaan. CONGKLAK, atau dengan nama lain dhakon merupakan permainan untuk 2 orang. Pada intinya permainan adalah mengisi setiap lubang pada papan congklak dengan biji-bijian satu persatu, tanpa boleh terlewat atau ada yang terisi lebih dari satu. Dilakukan secara bergiliran sampai semua biji-bijian yang ada habis. Pemenang permainan congklak adalah pemilik biji-bijian terbanyak pada akhir permainan. Manfaat : melatih kemampuan manipulasi motorik halus, melatih konsentrasi, mendidik sifat sportifitas anak, melatih kemampuan mengatur strategi, sarana belajar berhitung, melatih koordinasi 2 sisi tubuh.

Permainan Tradisional dan Hak Cipta

Begitu banyaknya permainan tradisional di Indonesia dan begitu banyaknya manfaat yang dapat diambil dari permainan-permainan tersebut maka akan sangat disayangkan apabila permainan tradisional warisan nenek moyang rakyat Indonesia itu hilang. Dan akan sangat disayangkan apabila permainan tradisional yang merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia tersebut diklaim oleh bangsa lain sebagai permainan tradisional mereka. Bangsa Indonesia telah kecolongan tiga barang ciri khas yang telah diklaim oleh bangsa lain. Tempe yang telah diklaim oleh Amerika, batik yang telah diklaim oleh Malaysia dan lagu Rasa Sayange yang juga telah diklaim oleh Malaysia. Akankah permainan tradisional juga ikut diklaim oleh bangsa lain?

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta pada Pasal 1 ayat (3) yang tergolong Ciptaan adalah ilmu pengetahuan, seni atau sastra dan pada Bagian Ketiga Pasal 10 ayat (2) diterangkan bahwa “Negara memegang Hak Cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya seni lainnya“. Sedangkan Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta menerangkan pada penjelasan II. Pasal Demi Pasal Pasal 10 Ayat (2) bahwa “Folklor dimaksudkan sebagai sekumpulan ciptaan tradisional, baik yang dibuat oleh kelompok maupun perorangan dalam masyarakat, yang menunjukkan identitas sosial dan budayanya berdasarkan standar dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun temurun, termasuk: a. cerita rakyat, puisi rakyat; b. lagu-lagu rakyat dan musik instrumen tradisional; c. tari-tarian rakyat, permainan tradisional; d. hasil seni antara lain berupa: lukisan, gambar, ukiran-ukiran, pahatan, mosaik, perhiasan, kerajinan tangan, pakaian, instrumen musik dan tenun tradisional”. Dengan sangat jelas bahwa yang dimaksud dari folklor adalah sekumpulan ciptaan tradisional dan yang menunjukkan identitas sosial dan budayanya berdasarkan standard an nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun temurun, namun entah kenapa negara tidak memasukkan permainan tradisional tersebut ke dalam ruang lingkup folklor. Apakah negara menganggap bahwa permainan tradisional tidak penting atau tidak punya sisi komersial sehingga tidak perlu dimasukkan ke dalam ruang lingkup folklor.

Saya mencoba untuk menebak-nebak apa yang akan terjadi apabila permainan tradisional ini jatuh ke bangsa lain. Saya bisa membayangkan, akan banyak sekolah-sekolah yang akan terkena kasus pidana hanya karena mengajarkan permainan tradisional tersebut kepada para siswanya. Mungkin bayangan ini terlalu ekstrim, tapi minimal sekolah-sekolah akan membayar hak cipta atas karya nenek moyang mereka sendiri kepada bangsa lain hanya untuk mengajarkan permainan tradisional tersebut. Sungguh ironis, rakyat Indonesia disuruh membayar barang milik sendiri yang telah direbut oleh bangsa lain. Apabila hal ini terjadi, maka akan semakin mahal biaya pendidikan di Indonesia. Jikalau sekolah tidak mau mengajarkan permainan tersebut, maka minimal akan hilanglah salah satu ciri khas Indonesia karena rakyat-rakyat Indonesia yang akan datang tidak mengenal permainan tradisional Indonesia. Apakah pemerintah Indonesia tega melihat negaranya diacak-acak oleh negara lain? Akankah habis semua aset ciri khas negara Indonesia dicuri oleh bangsa lain?

  1. January 25, 2008 at 2:48 am

    tertarik membuat kumpulan permainan tradisional indonesia?
    aku sedang bikin tulisan mengenai permainan tradisional indonesia, ada data yang bisa mendukungkah?
    kalo ada, boleh dong sharing….
    contact me : jeinmi21@yahoo.com/
    ym :werda_filsani@yahoo.co.id

  2. July 22, 2008 at 12:22 pm

    jadi tertarik neh

  3. July 22, 2008 at 12:23 pm

    he he

  4. hadi kecil
    July 28, 2008 at 4:38 pm

    buat mba werda, ato siapa ja yang mo gabung ma komunitas permainan tradisional kami boleh call do 085283113130 qt punya bahan mudah2 membantu

  5. Livhy
    August 10, 2008 at 6:26 am

    jd kngn nie m’ msa kcl…

  6. DiTa
    February 14, 2009 at 2:06 pm

    jadi inget nih pas masih kecil kaga maen kayak getoh!

  7. February 26, 2009 at 3:24 pm

    sangat tertarik nih….

  8. florian
    May 29, 2009 at 5:55 am

    bolehlah………… tiada permainan tradisional tentang muzik

  9. parulian sitanggang
    September 3, 2009 at 8:55 am

    Dasar Maysia Negara Yang Rakus Akan
    Kekayaan TAPI gX tHU dIRI

  10. emma
    September 11, 2009 at 5:23 am

    wah,,aku tertarik bgt nii..
    kebetulan kan aku mau riset Tugas Akhir kuliahku,,pengen deh mengangkat tema permainan tradisional yang semakin ‘tenggelam’ ini..
    buat siapa aja yg punya info apapun ttg permainan tradisional tlg email aku yh di hanakomachiueno@yahoo.com
    trimakasii..

  11. nangwe
    May 14, 2010 at 3:03 am

    Maaf, tentang permainan Dampu. Semasa kecil, permainan yang di deskripsikan sebagai DAMPU di atas, di tempat saya di sebut Ciplek (ada Ciplek Gunung, ada juga Ciplek Serut).

    Sedang yang disebut DAMPU adalah permainan dengan batu pipih untuk merobohkan batu lawan, level 1: dengan cara melemparnya, Level 2: dengan cara diletakkan dikaki dalam 2 langkah, level 3: dengan cara membawanya menghampiri batu lawan dengan satu kaki membawa batu sambil bergoyang-goyang dan kaki lain melompat2 menghampiri batu lawan.

    Mohon informasinya.
    thanks.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: